Rabu, 30 Oktober 2013

Inilah Cara Applikasi Chat mendapatkan keuntungan

Apakah Anda pengguna mobile chat? Pengguna smartphone seperti BlackBerry sudah pasti aktif menggunakan aplikasi chat-nya yang sangat populer, BBM. BBM adalah salah satu dari sekian banyak aplikasi mobile chat yang bermunculan akhir-akhir ini. Lihat saja iklan internet dan TV, nama-nama aneh mulai dikenal orang, contoh KakaoTalk, WeChat, Whatsapp, atau Line dan masih banyak lagi.

Yang mengherankan, aplikasi ini dengan cepat bisa mendapatkan jutaan pengguna, bahkan banyak orang menggunakan lebih dari DUA aplikasi chat. Mengapa begitu banyak perusahaan berlomba-lomba mengembangkan aplikasi chat? Apakah model bisnisnya dan bagaimana mereka bisa mendapatkan penghasilan dari chat yang serba gratis?

Pengguna ponsel mengalami pergeseran cara menggunakan ponsel. Dulu di zaman awal ponsel, fungsi utamanya adalah untuk menelepon. Produsen ponsel besar seperti Nokia, Siemens, Ericsson pada waktu itu membuat produk yang difokuskan pada kenyamanan bertelepon. Keypad dibuat berbasis angka, supaya dengan mudah bisa memasukkan nomor telepon. Hari ini angka bukan lagi tombol dominan dalam sebuah smartphone, fokusnya sudah di QWERTY karena penggunanya berpindah dari kebiasaan menelepon menjadi kebiasaan mengirim pesan.

Menurut beberapa survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga riset internasional, peringkat pertama penggunaan smartphone adalah untuk chat, peringkat kedua untuk akses internet dan baru kemudian untuk telepon. Telepon sudah bukan kepentingan utama, kebanyakan hanya dipakai apabila ada hal-hal yang sangat penting atau yang sulit dijelaskan dengan bahasa tulisan. Mungkin waktunya ganti nama dari telephone menjadi telechat.

Kebiasaan baru ini memberikan peluang bagi perusahaan online untuk memasarkan aplikasi chat. Dulu chat dilakukan melalui SMS yang bertarif Rp 300 per pesan yang dikirim, tetapi sekarang meterannya sudah beda, tidak lagi per pesan yang dikirim, melainkan dihitung berdasarkan jumlah transfer data yang dipakai. Bahkan di BlackBerry, chat sudah dianggap gratis karena sudah termasuk paket abonemen bulanan.

Di sini ada peluang bagi perusahaan pembuat aplikasi chat untuk melakukan negosiasi dengan operator seluler, yaitu dengan meminta bagian dari pembayaran data yang dipakai oleh pengguna smartphone. Setiap chat yang dikirim atau diterima dikenakan biaya data/internet yang dihitung per KB, biaya inilah yang diminta untuk dibagi antara operator seluler seperti Telkomsel, Indosat, XL dengan pembuat aplikasi chat.

Tapi tidak semua aplikasi mobile chat meminta bagian keuntungan dari biaya pemakaian internet, tentunya tergantung seberapa populer layanan chat tersebut.

Whatsapp mempunyai pendekatan yang beda dengan aplikasi mobile chat lain. Aplikasi ini berbayar. Harganya USD 0,99 per nomor telepon, per tahun atau sekitar Rp 11.000 untuk pemakaian setahun dengan catatan Anda tidak ganti nomor telepon. Jika Anda merasa tidak pernah bayar untuk menggunakan Whatsapp, hal itu karena di tahun pertama apps tersebut masih gratis, baru di tahun kedua akan dikenakan biaya.

Saat ini Whatsapp mengklaim ada 300 juta pengguna aktif, berarti mereka mempunyai peluang mendapatkan penghasilan setahun USD 300 juta atau setara dengan Rp 3 triliun. Perusahaan ini menjanjikan bahwa mereka tidak akan pernah menampilkan iklan di dalam aplikasi mereka, karena user sudah bayar untuk menggunakan Whatsapp.

Lain halnya dengan Line buatan Naver Corporation Korea yang dominan di Jepang. Line mendapatkan penghasilan dari jualan digital goodies, seperti stiker mereka yang digemari usernya di Indonesia. Stiker tersebut banyak yang disediakan gratis, tetapi ada yang premium dengan harga mulai dari Rp 15.000. Selain itu Line juga memperoleh penghasilan dari LINE Games yang menjual konsep freemium yaitu semua serba gratis tapi ada bagian yang berbayar. Line juga menyediakan layanan video call yaitu telepon dengan tatap muka, tetapi tidak menggunakan jalur telepon melainkan memakai jalur data, yang berarti lebih banyak kuota data yang akan terpakai. Ini memberikan peluang untuk mendapatkan penghasilan dari pembagian biaya data dari operator seluler. Aplikasi Line gratis untuk di-download dan dapat digunakan tanpa dikenakan biaya selain biaya data/internet dari operator seluler.

Naver perusahaan pencipta Line sukses di Jepang, tapi kalah telak di negaranya sendiri oleh KakaoTalk yang saat ini adalah aplikasi mobile chat nomor satu di Korea Selatan. Kakao Corp mengklaim perusahaannya sudah mencapai BEP (Break Even Point) dan sudah mendapatkan keuntungan dari bisnis mobile chat mereka. Bisnisnya menjual freemium mobile game seperti halnya Line dan jualan emoticon/emoji. Selain itu Kakao juga menggali potensi mobile commerce yaitu pembelian barang di mobile, seperti contohnya: gift cards dan kupon diskon. Mobile commerce akan menjadi satu peluang bisnis besar karena trend user untuk membeli barang di toko online semakin hari semakin naik.

Kelihatannya selain model bisnis yang ada di atas, masih ada peluang untuk mendapatkan keuntungan besar di bisnis mobile chat ini, yang jelas akan besar adalah dari mobile advertising. Jumlah user yang sangat besar disertai dengan banyaknya waktu yang dihabiskan user untuk chatting akan menarik perhatian pemilik brands untuk mengiklankan produknya.

Usaha online adalah usaha burung walet, semakin banyak burungnya semakin besar keuntungan dari liurnya. Di bisnis online, semakin banyak usernya, semakin banyak keuntungan yang bisa didapat. Bedanya kalau walet berliur sendiri, tetapi pengusaha online harus kreatif memikirkan apa yang bisa jadi penghasilan.

Let's be smart as the smart ones survive.

Sumber

Related Posts

Inilah Cara Applikasi Chat mendapatkan keuntungan
4/ 5
Oleh